Rasanya sulit untuk memulai menulis seperti biasa, seperti yang aku lakukan hampir 2 bulan sebelumnya. Banyak hal yang akhirnya membuatku tidak mencoret blog ini untuk beberapa waktu kemarin. Banyak hal yang terjadi namun tidak tertulis di sini. Pengalaman, harapan, keberhasilan, kesalahan…. Semuanya hadir mewarnai setiap hariku. Kepalaku merekam dengan jelas setiap kejadian yang sudah kulewati. Mungkin suatu saat nanti ketika jari ingin berekspresi, kejadian itu akan kugores disini.
Mulai hari ini aku akan kembali iseng2 di blog hina ini J yah mungkin hanya sekedar menyimpan saja agar suatu saat ketika aku lupa karena memoriku yang tidak seberapa ini mulai tidak sanggup lagi, aku bisa membaca sambil senyum2 mengagumi hasil karya sendiri. Hahaha….
Kemarin, bersama dengan teman satu kosan, kami mencoba membuat makan siang dan malam. Yah sekalian menghemat… dengan 7500 rupiah satu orangnya, udah bisa makan dua kali.. hehe. Coba makan di luar, mana dapat lagi makan dua kali dengan harga segitu. Sebenarnya mungkin bisa sih, dengan menu T3 (telor+tahu+
“Jun, tomatnya ga usah dikuliti” kataku. “yah gak lah tulang harusnya dikuliti sebelum digiling”,jawab bereku ini (bere yang aku ga tau darimana asal partuturonnya)
“aku biasanya bawang dulu lah, gmn?”Tanya jun. “bah, kalo di rumah ku yang digiling cabe dulu”,jawabku….. Ini kayak gini aja lah… o itu kita ginikan aja…. Hahaha ternyata banyak kali perbedaaan dalam hal kebiasaan dan selera. Semuanya terlihat dalam kegiatan menyenangkan ini.. yah kami harus saling mengalah. Kalo ga ada yang mengalah bakalan ga jadi masakan kami ini, atau jadi masak sendiri2.. haha
Aku bertugas menggoreng semua yang harus digoreng+memasak sayur. Jun mempersiapkan semuanya sebelum digoreng+masak nasi di rice cooker. Dengan modal kompor minyak dari jun, semuanya pun selesai…. Yah repot juga. Tapi ada kepuasan tersendiri. Ceileh… haha cem btul aja.
Sambil menunggu si api merah biru yang sedang bertugas menggoreng, kami ngobrol2 santai. Obrolan berkembang ke sebuah analogi, dalam bahasa holy-nya disebut perumpamaan.
Tak lama kemudian, orang2 yang berada di jalan mulai menyindir lagi. “bah, kok bisa2nya si nenek itu membiarkan cucunya yang masih sangat kecil itu berjalan kaki sedangkan dia santai2 di atas lembu.. beeh tega kali pun”. Mendengar itu, sang nenek turun dan berkata kepada cucunya, “kamu saja yang naik ke atas lembu ya, biar nenek aja yang jalan kaki”, katanya. Sang cucu pun tak kuasa melawan neneknya.. perjalanan pun dilanjutkan.
Setelah beberapa menit, orang2 mulai menyindir lagi. “Ih kasian kali lembu itu.. masak masih dinaiki lagi..
“Loh pasar
Setelah itu, sepanjang perjalanan banyak orang yang masih menyindir mereka inilah.. itulah… tapi mereka tetap tidak mengindahkan perkataan itu. Mereka berjalan dengan perasaan senang satu sama lain dengan menjalankan suatu hal yang memang benar menurut mereka.. bukan karena perkataan orang lain…
Dari analogi di atas, sesuatu hal yang kita lakukan harus berasal dari hati nurani kita sendiri. Bukan karena kehendak orang lain ataupun perkataannya. Apa yang kita anggap benar, kita harus pikirkan dan akhirnya kita putuskan dengan pikiran dan hati kita sendiri.. Satu hal lagi, jangan pernah mencoba menyenangkan semua orang. Setiap orang tidak sama, setiap orang pasti berbeda… baik dari hal2 kecil sampai terbesar.
Obrolan pun selesai bersamaan dengan selesainya masak2 anak kost di siang hari. Hehe.. perut udah lapar kali. “Sepertinya makanan ini enak kali jun, siapa sih yang goreng?”, tanyaku sambil memuji diri sendiri. Haha… yah daripada ga ada yang memuji
“Memang masakan sendiri lebih enak daripada masakan warung”, semoga ini bukan sugesti ku saja, tapi kalo pun sugesti yah tak apalah toh tidak ada yang salah dengan itu…
Hehe….
Sekian.
Ditulis oleh seorang anak kost yang ingin memasak lagi, karena sudah bosan dengan masakan warung yang dibumbui vetsin, udah itu mahal pula lagi!! Semoga kesempatan itu datang lagi….